Senin, 28 November 2011

40 ORANG TERKAYA DI INDONESIA TAHUN 2011

Daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah FORBES


1. R. Budi & Michael Hartono (14 miliar dolar AS).

























Robert Budi Hartono (Oei Hwie Tjhong), dan Michael Bambang Hartono (Oei Hwie Siang) adalah pemilik dari salah satu perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia, Djarum. Mereka merupakan anak dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum.

baca selengkapnya




Selain Djarum, Robert dan Michael adalah pemegang saham terbesar di Bank Central Asia. Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA.

"Mereka juga memiliki Grand Indonesia, suatu pusat perbelanjaan mewah beserta gedung perkantoran dan komplek hotel di pusat Jakarta," tulis Forbes. Perusahaan Djarum, walau penjualannya telah dilarang di AS bersama produk-produk rokok lain sejak 2009, telah meluncurkan Dos Hermanos, yaitu produk cerutu premium yang berbahan campuran tembakau Indonesia dan Brazil.

Saudara-saudara Michael dan Budi pun memiliki bisnis minyak kelapa sawit, dengan memiliki lahan seluas 65.000 hektar di Kalimantan Barat pada 2008.



2. Susilo Wonowidjojo (10 miliar dolar AS).







 







 






















 

Dia adalah pengusaha Tionghoa di Indonesia. Susilo Wonowidjojo lahir di Kediri – awa Timur dengan nama Cai Daoping dan dia adalah orang Hok Chia totok. Ia adalah putra dari Surya Wonowidjojo, pendiri Gudang Garam, produsen rokok kretek terkemuka di Indonesia (rokok kretek) Bersama keluarganya ia memiliki Gudang Garam, pembuat rokok kretek terbesar di negara ini, yang namanya berarti "gudang garam". Saham melambung tinggi dalam 4 tahun di tengah masalah besar di mana British American Tobacco membeli saham mayoritas di saingannya Bentoel Internasional. Susilo diangkat menjadi presiden direktur pada bulan Juni, penggantian non-anggota keluarga yang tersisa pada bulan Februari. Ia dan kakak nya Sumarto duduk di Dewan perusahaan ketika saudara perempuannya Juni Setiawati adalah komisaris perusahaan. Dan kakaknya Rachman Halim menjalankan operasional perusahaan sampai kematiannya pada tahun 2008.






3. Eka Tjipta Widjaja (8 miliar dolar AS)
(Sinar Mas)














Eka Tjipta Widjaja (lahir di Coan Ciu, Fujian, Republik Rakyat Cina dengan nama Oei Ek Tjhong, 3 Oktober 1923) adalah pengusaha dan pendiri serta pengendali Grup Sinar Mas. Ia merupakan orang ke 3 terkaya di Indonesia menurut Forbes.

Eka Tjipta dilahirkan dari keluarga miskin di Fujian, Republik Rakyat Cina. Pada tahun 1931. ia melakukan migrasi ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Ia juga merupakan pendiri dari Yayasan Eka Tjipta Foundation.

Quote :
"Hematlah..." tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.

Saya juga pernah kerja non-stop 26 jam tanpa tidur.

Tapi menurut saya kesulitan apa pun yang kita hadapi, asal kita punya keinginan untuk berjuang, pasti semua kesulitan bisa diatasi.

Jujur, menjaga kredibilitas, tanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial. Hidup hemat dan tidak berfoya-foya. Bila kita hidup hemat, uang yang ditabung bisa digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dan, kita harus sebisa mungkin berusaha membantu orang lain yang kurang mampu, tanpa diskriminasi. Kemanusiaan itu tidak pandang bulu.

Di dalam agama diajarkan bahwa ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Ketika saya berbuat kebajikan dengan membantu orang lain, saya tidak takut kelakuan saya ini tidak dikenal orang, biarkan Tuhan saja yang tahu.


4. Low Tuck Kwok (3,7 miliar dolar AS)
(Bayan Group)







 

















Pria ini terlahir di Singapura serta ikut bisnis konstruksi orang tuanya hingga usia 20 tahun. Namun, kemudian pindah kewarganegaraan jadi warga Indonesia. Dia dikenal sebagai raja batu bara Kalimantan.

Low Tuck Kwong memulai bisnis di Indonesia pada 1973 ketika ia membentuk perusahaan konstruksi yang khusus menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah, hingga konstruksi di laut. Dalam perkembangannya, perusahaan konstruksi sipil ini kemudian mendapatkan kontrak batu bara pada 1988.

Lima tahun setelah berganti kewarganegaraan Indonesia, pada November 1997, Low Tuck mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama yang memiliki tambang dan mengoperasikan terminal batu bara di Balikpapan sejak 1998. Sejak itu, sejumlah konsesi baru diakuisisinya hingga resmi membentuk perusahaan induk yang dikenal dengan PT Bayan Resources.

Sejak 2001, Bayan Group rata-rata menambah satu konsesi dalam portofolio perusahaan. Bahkan, Bayan terus mengevaluasi peluang untuk menambah konsesi batu bara di Indonesia.

Melalui sejumlah perusahaan, Bayan Group memiliki hak eksklusif melalui lima kontrak pertambangan dan tiga kuasa pertambangan dari pemerintah Indonesia. Total konsesinya mencapai 81.265 hektare.

VIVAnews Berita terbaru 25 November 2011
Pengusaha yang bergerak di bidang batu bara dengan bendera PT Bayan Resources Tbk ini ditaksir memiliki kekayaan hingga US$3,7 miliar atau Rp33,3 triliun. Selama setahun terakhir, Low Tuck Kwong telah menambah pundi kekayaan sebanyak US$1,1 miliar dari sebelumnya US$2,6 miliar.

Pria berusia 63 tahun ini menargetkan mampu menggandakan produksi batu bara dari Bayan Resources menjadi 25 juta ton pada 2013. Bayan juga telah sepakat untuk memasok batu bara sebanyak 100 juta ton ke perusahaan India, Universal Crescent Power Private antara 2015-2040.

Selain dari bisnis di Indonesia, Low Tuck Kwong juga memiliki saham di perusahaan Singapura, Manhatan Resources dan Singapore Health Partner. (art)



5. Anthony Salim (3,6 miliar dolar AS)
(Salim Group)








   
Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi kedua) terpilih sebagai orang terkaya Indonesia ke 5.

Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.

Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan


 









Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Bank Central Asia, miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional 1998 itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52 trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung jawab.

Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum) dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di antaranya PT Indofood Sukses Makmu Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong, Thailand, Filipina, Cina dan India.



6. Sukanto Tanoto (2,8 miliar dolar AS)
(Raja Garuda Mas dan PT RIAU PULP)









 





Namanya pernah masuk daftar orang terkaya di Indonesia pada 2006. Bos Raja Garuda Mas International ini dilahirkan di Belawan, Sumatera Utara, 25 Desember 1949.

Bernama asli Tan Kang Hoo, ia menjadi pengusaha yang sukses di lebih 10 negara. Usahanya, banyak bergerak di bidang agrikultur, mulai dari bubur kertas hingga kelapa sawit. Semuanya kelas dunia.

Saat 18 tahun, ayahnya, Amin Tanoto, sakit stroke. Sulung dari tujuh bersaudara ini lalu mengambil alih tanggung jawab keluarga. Meneruskan usaha berjualan minyak, bensin, dan peralatan mobil.

Ia kemudian pindah dari kota kelahirannya, Belawan, ke Medan. Sukanto juga berdagang onderdil mobil, lalu mengubah usaha itu menjadi kontraktor umum.

Saat impor kayu lapis dari Singapura menghilang di pasaran, ia mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita, pada 1972. Kemudian usaha ini berubah menjadi perusahaan kayu lapis dan mengubah nama menjadi PT Raja Garuda Mas.

Sukanto juga membuat PT Inti Indorayon Utama, perusahaan yang mengelola hutan tanaman industri dan pabrik bubur kertas. Indorayon sempat ditentang masyarakat dan aktivis lingkungan hidup karena ditengarai mencemari Danau Toba. Indorayon pun ditutup.

Sukanto lantas membuka perusahaan pulp di Riau, yaitu PT Riau Pulp. Pabrik kertas terpadu ini merupakan pabrik terbesar di dunia. Di bidang properti, ia membangun Uni Plaza dan Thamrin Plaza, semuanya di Medan.

Tidak hanya di dalam negeri, ia melebarkan sayap ke luar negeri, dengan ikut memiliki perkebunan kelapa sawit National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta pabrik kertas di China yang kini sudah dijual untuk memperbesar PT Riau Pulp.






7. Martua Sitorus (2,7 miliar dolar AS) 
 (Wilmar Group)











 










Martua lahir 51 tahun lalu di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan tersebut waktu kecilnya dikenal dengan nama Thio Seng Hap dan dikenal juga dengan panggilan A Hok.

Martua memulai karir bisnisnya sebagai pedagang minyak sawit dan kelapa sawit di Indonesia dan Singapura. Bisnisnya berkembang pesat. Pada 1991 Martua mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektar di Sumatera Utara. Pada tahun yang sama pula Martua bisa membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya.

Ia kemudian melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar International Limited. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Bahkan, untuk pabrik biodiesel, dia memiliki produksi terbesar di dunia. Meski sebagai pemilik, Martua masih menduduki jabatan direktur eksektuf di Wilmar.

Pembangunan biodiesel dilakukan di Riau pada 2007 dengan membangun tiga pabrik biodiesel, masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,05 juta ton per tahun.

Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania.






8. Peter Sondakh (2,6 miliar dolar AS)
(Rajawali Group)











 















Sebagai salah satu taipan papan atas Indonesia, Peter bukan saja dikenal sebagai bos grup bisnis besar di negeri ini. Namun, pria berusia 58 tahun ini juga memiliki rumah mewah di Beverly Hills.

Grup bisnis Rajawali yang dikendalikannya bergerak di berbagai bidang, mulai dari properti, pertambangan, hingga perkebunan. Semula, grup bisnis ini juga berniat mengembangkan usaha maskapai pesawat, namun dibatalkan karena bisnis penerbangan dinilai kurang menguntungkan.

Dulunya Grup Rajawali dikenal sebagai pemilik pabrik rokok besar di Tanah Air, PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Namun, ia kemudian melepaskan 56,96 persen sahamnya kepada British American Tobacco, produsen rokok terbesar kedua di dunia.

Dari penjualan itu, Rajawali mengantongi dana segar Rp3,35 triliun. Menurut eksekutif Grup Rajawali, Darjoto Setiawan, sebagian besar dana itu digunakan untuk investasi di bisnis tambang. Selain itu, akan digunakan untuk memperluas kebun sawit, serta mengembangkan sektor properti.

Rajawali Group melalui Blue Valley Holding Pte Ltd juga menguasai 24,9% saham Semen Gresik.




9. Putera Sampoerna (2,4 miliar dolar AS)
(Sampoerna Capital)
































  

Putera Sampoerna (lahir di Schiedam, Belanda, 13 Oktober 1947; umur 64 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.

Awal kehidupan
Putera memperoleh pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, dan kemudian di Carey Baptist Grammar School, Melbourne. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di University of Houston, Texas, Amerika Serikat.

Lulus dari perguruan tinggi, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.

Pria yang menggemari angka sembilan itu mulai menjadi figur penting dalam perusahaan setelah menerima tampuk pimpinan tertinggi sebagai chief executive officer dari ayahnya, Aga Sampoerna, pada 1986. Setelah Aga meninggal pada 1994, Putera semakin aktif menggenjot kinerja perusahaan dengan merekrut profesional mancanegara untuk turut mengembangkan kerajaan bisnisnya.

Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi produk inti perusahaannya, yakni rokok, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air dengan produknya, A Mild.

Pada masa kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal.

Pada tahun 2000, Putera mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.

Maret 2005 merupakan masa penting dalam perjalanan bisnis Putera Sampoerna dan keluarganya, dimana Putera memutuskan untuk menjual kepemilikan saham atas PT HM Sampoerna kepada PT Philips Morris Indonesia. Pengumuman akuisisi itu mengejutkan pihak-pihak internal (Karyawan HM Sampoerna) dan eksternal Perusahaan (investor, pengamat ekonomi, dll); dimana keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1913 dinilai berbagai kalangan merupakan langkah bisnis Putera Sampoerna yang sangat beresiko tinggi, mengingat selama ini HM Sampoerna merupakan sumber utama pendapatan dari keluarga Sampoerna bahkan pada saat dijual kinerja perusahaan sangatlah baik. Hingga saat ini alasan Putera Sampoerna untuk melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas.

Pada awal 2006, dikabarkan bahwa Putera, yang dikenal menggemari judi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion.




10. Achmad Hamami (2,2 miliar dolar AS)








 





 









Achmad Hamami, adalah miliarder baru dengan kekayaan US$2,2 miliar dan berada di posisi 10 atau paling tinggi dibanding pendatang baru lainnya.
Ia merupakan pemilik dari Tiara Marga Trakindo, distributor alat berat, Caterpillar di Indonesia sejak 1971.

Ternyata, seperti dikutip dari situs resmis trakindo.co.id, kekayaannya bukan hanya berasal dari bisnis alat-alat berat semata. Koceknya juga diraih dari bisnis pertambangan, industri teknologi dan informasi, sampai penjualan minyak pelumas atau oli.

Berikut, rekam jejak bisnis Achmad Hamami:
1970, A.H.K. Hamami mendirikan PT Trakindo Utama pada 23 Desember

1971, Trakindo resmi menjadi agen tunggal Caterpillar di Indonesia pada 13 April

1977, Trakindo mendirikan anak perusahaan, PT Sanggar Sarana Baja, untuk memberikan layanan perancangan dan fabrikasi untuk pasar industri peralatan berat

1982, PT Natra Raya berdiri sebagai perusahaan patungan antara Caterpillar Inc. dan Trakindo yang bergerak di bidang manufaktur dan perakitan alat berat Caterpillar

1993, divisi mining Trakindo dibentuk untuk mendukung industri pertambangan Indonesia dengan layanan dan peralatan kelas dunia

1995, Trakindo mendirikan anak perusahaan, PT Chandra Sakti Utama Leasing, untuk memberikan layanan pembiayaan pembelian peralatan Caterpillar

1996, Trakindo memperkenalkan CAT® Oil Program dan Trakindo resmi menjadi agen produk Sullair

1997, Trakindo mendirikan anak perusahaan, PT Cipta Kridatama, untuk memberikan layanan kontrak dan sewa bagi industri pertambangan. Pada tahun yang sama, Trakindo mendirikan anak perusahaan, PT Cipta Krida Bahari, untuk memberikan layanan jasa logistik

1998, Trakindo resmi menjadi agen produk Baldwin dan Olympian

1999, Trakindo mendirikan anak perusahaan, PT Mitra Solusi Telematika, yang memberikan fasilitas dan layanan manajemen teknologi informasi, termasuk pusat data recovery bisnis dan informasi

2000, PT Tiara Marga Trakindo berdiri pada 16 Agustus sebagai perusahaan induk Grup Trakindo. Trakindo pada tahun itu, resmi menjadi agen produk Sykes Pumps

2001, Trakindo resmi menjadi agen produk Bitelli

2002, CAT® Rental Store pertama dibuka

2003, Trakindo menjadi penyalur Caterpillar No. 1 di dunia untuk penjualan pelumas Caterpillar dalam CAT® Oil Program

2005, Trakindo resmi menjadi agen produk LAKO Harvester.

SUMBER  : VIVAnews





11. Chairul Tanjung (2,1 miliar dolar AS)
(Para Group)









Chairul Tanjung mendapatkan kekayaan dari Grup Para. Grup didirikan pada 1987, berbekal dari pinjaman Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Chairul mendirikan pabrik sepatu dengan membeli 20 mesin jahit.

Dari usaha itulah, Grup Para melebarkan sayap bisnis secara perlahan. Lompatan besarnya terjadi pada saat dia mengakuisisi Bank Karman pada 1996, dan mengganti namanya menjadi Bank Mega.

Saat itu, aksinya dipandang aneh karena pada saat krisis justru ia malah membeli bank. Namun, di tangannya, bank kecil yang hampir bangkrut tersebut malah berkembang pesat.

Pada 1998, Chairul mendapatkan izin siaran TransTV. Sejak itulah, nama Chairul makin berkibar. Bank Mega kian agresif melakukan akuisisi, mulai dari akuisisi Indovest Securities yang kini menjadi Mega Capital.

Kemudian, mengakuisisi Bank Tugu, membangun Bandung Supermall, membentuk Mega Asuransi Jiwa, membangun Bank Mega Tower hingga mengambilalih TV7 milik Grup Kompas-Gramedia yang kemudian diubah menjadi Trans7.

Pada 2006, Grup Para mulai terjun ke bisnis retail dengan mengakuisisi sejumlah franchise merek ternama di Indonesia, seperti Coffee Bean, Mahagaya Perdana, hingga membentuk Trans Lifestyle sebagai payung untuk bisnis retail.

Ekspansi dokter gigi yang jadi pengusaha ini juga terus berkembang. Dia mulai mengincar bisnis baru di pertambangan, energi, infrastruktur, hingga mengambil alih Carrefour Indonesia.






12. Boenjamin Setiawan (2 miliar dolar AS)
(Kalbe Farma)








 


















 

Pendiri dan Komisaris Utama PT Kalbe Farma Tbk, Boenjamin Setiawan yang akrab dipanggila Dr. Boen dedikasinya bagi kemajuan industri farmasi nasional tak diragukan lagi. Di tangan Boen, perusahaan sekelas garasi “disulap” menjadi grup farmasi terbesar di Tanah Air: PT Kalbe Farma Tbk.

Bicara tentang industri farmasi nasional, sulit melupakan Boenjamin Setiawan. Kecintaannya terhadap dunia farmasi mengantarnya sebagai salah satu tokoh industrialisasi farmasi modern nasional. Pria yang akrab disapa Dr. Boen ini tak lain adalah pendiri sekaligus pemilik PT Kalbe Farma Tbk., sebuah grup farmasi besar yang terintegrasi. Perusahaan farmasi lokal ini ditaksir memiliki aset di atas Rp5 triliun. Lengan bisnis grup ini meliputi obat-obatan, makanan kesehatan, bisnis pengepakan, distribusi, pergudangan, dan sarana riset modern.

Boen memiliki latar belakang akademis, khususnya di bidang farmakologi dan farmakinetik. Sebelum sepenuhnya menerjuni bisnis, peraih gelar dokter dari Universitas Indonesia dan Ph.D. bidang farmakologi dari University of California, AS, ini sempat beberapa tahun menjadi dosen. Sepulang dari sekolah di AS, ia banting setir, mencoba peruntungan dengan menggeluti bisnis farmasi. Tepatnya, pada 1966, cikal bakal Grup Kalbe resmi berdiri.

Keberhasilan Grup Kalbe memang tak luput dari kepemimpinan pria kalem ini. Sebagai ahli farmasi, Dr. Boen paham betul bagaimana perkembangan farmasi global. Ia terjun langsung mengembangkan jenis obat-obatan maupun makanan kesehatan Kalbe.

Lompatan sukses Grup Kalbe terutama ditopang oleh kejeliannya membaca ceruk pasar dengan memproduksi dan memasarkan obat generik.

Kesuksesan Kalbe tak membuat Dr. Boen cepat berpuas diri. Kali ini ia kembali membuat gebrakan lewat langkah merger internal. Tiga perusahaan publik, Kalbe Farma, Dankos Laboratories, dan perusahaan distribusinya, PT Enseval Putera Megatrading, dilebur menjadi satu. Boleh jadi ini merupakan aksi merger internal terbesar yang pernah terjadi di bursa.

Boen tampak cukup cerdik meneropong perkembangan pasar. Merger ini akan memperkuat posisi Grup Kalbe di industri farmasi nasional. Mereka juga menciptakan sinergi yang kokoh antar-unit usaha untuk memperbesar pasar, di samping tentunya menghasilkan efisiensi dalam proses kegiatan usaha.

Di luar itu, Kalbe juga melakukan sejumlah langkah strategis. Mereka mendirikan PT Innogene Kabiotect Pte. Ltd., sebuah perusahaan riset dan pengembangan. Kalbe juga menjalin kerja sama strategis dengan Morinaga untuk mendirikan pabrik susu dengan investasi sekitar Rp500 miliar





13. Sri Prakash Lohia (1,7 miliar dolar AS)
(Indorama Corp)







 













Laki-laki keturunan India yang memilih jadi warga negara Indonesia ini memiliki kekayaan US$2,1 miliar. Kekayaannya diperoleh dari Indorama Corporation, perusahaan polyster yang didirikan bersama ayahnya, ML Lohia.

Indorama memulai usahanya dengan mendirikan pabrik benang pada 1976 di Indonesia. Kini di tangan Prakash, Grup Indorama kian menggurita. Produknya meliputi poliester, PET resin, polyethylene, polypropylene, kain, hingga sarung tangan medis. Pabriknya bertebaran di sepuluh negara dengan kontrol penuh dari Jakarta.

Grup Indorama saat ini menaungi sejumlah perusahaan. Usaha pembuatan bahan baku tekstil di bawah bendera PT Indorama Synthetics dan usaha petrokimia di bawah PT Petrokimia Eleme. Produk Indorama dikirim ke lebih dari 90 negara di empat benua dan menyerap lebih dari 16 ribu tenaga kerja.





14. Murdaya Poo (1,5 miliar dolar AS)
(Berca Group)






 





















Murdaya Poo
dan istrinya, Hartati Murdaya, memiliki puluhan perusahaan. Induk usahanya adalah PT Central Cipta Murdaya (CCM) atau dulu lebih dikenal sebagai Grup Berca.

Perusahaan ini bergerak di bidang listrik, perdagangan, engineering, infrastruktur, teknologi informasi, manufaktur, agribisnis, kehutanan, dan properti.

Diantara sekian banyak bisnis, PT CCM mencapai puncak kesuksesan ketika berhasil mendapatkan lisensi produksi sepatu Nike di Indonesia. Setelah itu, PT CCM menjadi agen pemasaran produk-produk teknologi top dunia, seperti IBM, HP, Hitachi, Fujitsu, dan Symantec.

Salah satu asset berharga keluarga Murdaya Poo adalah PT Metropolitan Kencana, perusahaan properti yang dibeli dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) senilai Rp600 miliar pada 2002.

Melalui PT Metropolitan Kencana, suami-istri Murdaya memegang operasional Pondok Indah Mall I dan II, Wisma Metropolitan I dan II serta World Trade Center.






15. Tahir (1,4 miliar dolar AS)














NO RECORD / TANPA RIWAYAT







16. Edwin Soeryadjaya (1,35 miliar dolar AS)





























Malang melintang di dunia bisnis sejak 1978 di Astra, kini Edwin mendapat hasil dari perjuangannya. Nama Edwin dilirik ketika dia menangani restrukturisasi keuangan di tubuh Astra pada tahun 1987-1990. Dia pula yang menjadi aktor persiapan Astra go public pada Februari 1990.

Namun, kejatuhan Bank Summa membuat keluarga Soeryadjaya harus melepas Astra. Kemudian, pada 1999, Astra menandatangani program restrukturisasi utang. Hasilnya, setahun kemudian, konsorsium Jardine Cycle & Carriage menguasai 40 persen saham Astra.

Putra kedua Willem Soeryadjaya ini meninggalkan Astra pada 1993 untuk mendirikan perusahaan investasi miliknya sendiri. Sepak terjangnya antara lain pada 1995, dia terlibat dalam perjanjian PT AriaWest International dengan USWest yang sekarang bernama AT&T, perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat dan AIF.

Tahun 1996, Aria West dianugerahi best project financing senilai US$600 juta dengan 40 bank internasional. Tahun 1997, ia mendirikan PT Advacne Interconnect Technology di Batam bersama New Bridge Capital nilainya mencapai US$ 100 juta.

Rupanya Edwin tak diam diri. Bersama Sandiaga Uno ia mendirikan Saratoga Capital tahun 1998. Perusahaan investasi itu kini senilai US$452 juta. Dalam satu tahun terakhir perusahaan ini telah berinvestasi di pertambangan dan telekomunikasi.

PT Adaro Energy, Tbk adalah salah satu perusahaan Saratoga di bidang pertambangan batu bara. Sejak melantai tahun 2004, kini saham Adaro Energy masuk dalam jajaran saham unggulan (blue chips). Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia kemarin, saham berkode ADRO ini bergerak di level Rp2.350 dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp75,17 trilun.

Terakhir, Saratoga juga menawarkan perusahaan telekomunikasi melalui PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Selama masa penawaran umum perdana, Tower Bersama menghimpun dana Rp1,97 triliun pada harga Rp2.025 per unit.
Dana itu diperoleh melalui penawaran sebanyak 551,11 juta saham baru, 339,75 juta saham lewat private placement, serta 82,66 juta saham dari opsi penjatahan lebih (greenshoe).

(Data Tahun 2010)





17. Kiki Barki (1,3 miliar dolar AS)
(PT Harum Energy Tbk)







Nama baru yang menikmati keuntungan dari hasil tambang batu
bara adalah Kiki Barki. Pendatang baru di deretan orang terkaya Indonesia ini mengendalikan perusahaannya melalui  PT Harum Energy Tbk.

Kiki yang kini berusia 71 tahun mengoleksi kekayaan senilai US$1,7 miliar, dan menduduki peringkat ke-11. Melalui bisnisnya di industri tambang batu bara, Kiki sukses membawa Harum Energy mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada awal Oktober 2010.

Saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan melepas 500 juta saham pada harga Rp5.200 per unit, perseroan mampu meraup dana segar Rp1,04 triliun. Harum Energy yang merupakan perusahaan grup Tanito Coal itu kini masuk salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Sumber viva news

 



18. Garibaldi Thohir (1,3 miliar dolar AS)
PT Wahana Ottomitra Multiartha (PT WOM)


 



















Garibaldi yang lahir pada 1 Mei 1965 ini terus mengasah kemampuan dan instink bisnisnya. Sebagai bagian dari strateginya untuk memperluas bisnis keluarga di bidang agen sepeda motor Honda, Garibaldi memulai bisnis utamanya di tahun 1997 dengan membeli perusahaan multi finansial yang kemudian dikenal sebagai PT Wahana Ottomitra Multiartha (PT WOM). PT WOM bergerak dalam bidang penyedia cicilan pembelian sepeda motor Honda, dan sekarang merupakan salah satu perusahaan pembiayaan konsumen terbesar di Indonesia.






19. Sjamsul Nursalim (1,22 miliar dolar AS)
(Gajah Tunggal)



















  

Pemilik Gajah Tunggal Group yang bergelut dalam produksi ban mobil, bank dan bisnis pertambangan.

VIVAnews - Jaksa Agung Pidana Khusus Marwan Effendy mengatakan tidak ada lagi tindak pidana yang melilit obligor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Syamsul Nursalim. Bos Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) itu dinilai hanya berkewajiban membayar kekurangan pembayaran.

"Kalau pidananya sudah selesai. Tidak ada lagi," kata Marwan kepada wartawan, Selasa 8 September 2009. Saat ini, kata dia, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) tengah mengkaji upaya perdata untuk menagih kekurangan pembayaran itu.

Kasus Syamsul pun, kata dia, telah diserahkan ke Menteri Keuangan. "Sekarang tergantung Menkeu mau atau tidak menyerahkan Surat Kuasa Khusus pada Jaksa Pengacara Negara," kata Marwan.

Marwan membantah kasus penghentian penyidikan Syamsul Nursalim berkaitan dengan kasus suap jaksa BLBI Urip Tri Gunawan. Seperti diberitakan, Urip terbukti menerima uang US$660 ribu dari orang dekat Syamsul Nursalim, Artalyta Suryani.



20. Ciliandra Fangiono (1,210 miliar dolar AS)








Ciliandra yang baru berusia 33 tahun meningkatkan kekayaan para milyuner tersebut secara cepat.

Ciliandra yang merupakan pimpinan First Resources kini mengelola sekitar 247.000 hektar lahan CPO.

Ciliandra bersama para saudaranya termasuk saudaranya laki-lakinya Cik Sigih memiliki 74% saham First Resources. Perusahaan tersebut didirikan oleh ayah Ciliandra, Martias. Namun Martias telah melepaskan keterlibatannya di perusahaan tersebut sejak tahun 2003.



21. Eddy Wiliam Katuari (1,2 miliar dolar AS)








 



















 

 Usaha sabun cuci detergen merek Wing. Dan pada saat ini juga bergerak dibidang penjualan kebutuhan rumah tangga,real estate dan kimia.

Dalam perkembangannya, Wings bahkan tidak hanya berkonsentrasi menggarap pasar lokal, tapi juga pasar ekspor. Sudah sejak lama Wings mengekspor produk-produk toiletries-nya. Beberapa produknya bahkan memimpin pasar. “Di sejumlah negara Afrika dan Arab kami memang market leader,” tutur William.

Saat ini, menurut sumber SWA, tak kurang dari 90 negara menjadi tujuan ekspor Wings. Penjualan ekspor ini mampu mengontribusi sekitar 30% pendapat Wings dari bisnis toiletries.




22. Hary Tanpesoedibjo (1,19 miliar dolar AS)
(MNC Group)








 













Hary Tanoesoedibjo lahir di Surabaya, 26 September 1965. Beliau adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai Bos dari MNC (Media Nusantara Citra) group. Lulus dengan gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Ottawa-Kanada, pada tahun 1988 dan gelar Master of Business Administration dari Ottawa University, Ottawa-Kanada, pada tahun 1989.

Untuk saat ini Hary memegang beberapa jabatan strategis di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Global Mediacom Tbk (sejak tahun 2002) setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris perusahaan tersebut. Ia adalah pendiri, pemegang saham, dan Presiden Eksekutif Grup PT Bhakti Investama Tbk sejak tahun 1989.

Pria Berdarah Tionghoa ini juga memegang berbagai posisi di perusahaan-perusahaan lainnya, diantaranya sebagai Presiden Direktur PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) dan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak tahun 2003, sebagai Komisaris PT Mobile-8 Telecom Tbk,
Indovision dan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah bendera Global Mediacom dan Bhakti Investama. Hary juga saat ini aktif sebagai Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Ia telah berulang kali menjadi pembicara di berbagai seminar dan menjadi dosen tamu dalam bidang Keuangan Perusahaan, Investasi dan Manajemen Strategis untuk program magister di berbagai perguruan tinggi.


Global Mediacom gunakan Rp7,88 miliar untuk buyback

PT Global Mediacom Tbk (BMTR) merealisasikan pembelian saham kembali (buyback) sebanyak 23,83 juta saham dengan nilai Rp7,88 miliar pada 24 Februari 2010 dan aksinya masih berlanjut hingga 5 April.

Direktur Utama PT Global Mediacom Tbk Hary Tanoesoedibjo dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini menjelaskan dana yang digunakan untuk buyback tersebut senilai Rp7,88 miliar dari total Rp300 miliar yang disiapkannya.

Sisanya senilai RpRp273,38 miliar akan digunakan untuk melanjutkan proses buyback berikutnya. Berdasarkan surat Perseroan No : 001-BPPM/MCOM-CL/1/10, proses buyback Global Mediacom berlaku untuk periode 5 Januari hingga 5 April 2010.

Pada penutupan pasar hari ini, harga BTMR tercatat Rp280 atau menguat 3,70% dari hari sebelumnya Rp270. Nilai kapital pasarnya mencapai Rp3,85 triliun. Sementara untuk shares out sebesar 13,76 miliar lembar.

Hary Tanoesoedibjo sendiri melalui PT Bhakti Investama Tbk juga diketahui bersiap mengakuisisi perusahaan asuransi, yaitu PT Pacific International Indonesia Insurance guna memperkuat lini bisnisnya di bidang jasa keuangan.

Akuisisi perusahaan asuransi itu merupakan bagian dari seluruh rencana akuisisi yang disiapkan Hary terhadap beberapa perusahaan lainnya, yaitu bidang tambang emas, migas, batu bara, asuransi dan perusahaan konten media dengan total hingga US$300 juta pada semester pertama 2010.

Rencana akuisisi beberapa perusahaan itu akan dilaksanakan melalui induk perusahaan investasinya, yaitu Bhakti Investama dan dan induk perusahaan media yakni PT Global Mediacom Tbk. 

Pada tahun 2011, Beliau mulai berkiprah dalam partai politik dengan masuk menjadi Ketua Dewan Pakar Partai NasDem

Demikian berita dari Media Indonesia :
 

Jakarta — Masuknya pemilik RCTI Hary Tanoesoedibjo ke Partai Nasional Demokrat memang memberikan warning akan ada kekuatan politik baru di Indonesia. Ada harapan kecil mengingat Hary mengaku berpolitik bukan untuk uang.

"Bukan mau sombong... secara materi, saya tak butuh apa-apa lagi," ujar Hary. 
Saat ini Hary didapuk menjadi Ketua Dewan Pakar Partai NasDem. 

Pilihan Hary independen. Pemilik Media Nusantara Citra (MNC) Group--induk RCTI, MNC TV, Global TV, Koran Sindo, Sindo Radio, Sindo TV--ini mengaku, terjun ke gelanggang politik adalah pilihan sadarnya. Tidak ada tekanan atau pengaruh dari pihak manapun. 

"Saya punya visi misi membesarkan NasDem. Sebab itu saya diminta untuk jadi ketua dewan pakar," kata Hary, yang pada pembukaan rapat pimpinan nasional Partai NasDem berdiri berdampingan dengan Ketua Umum Ormas Nasdem Surya Paloh. 

Hary paham, sebagai ketua dewan pakar, dirinya punya tugas membesarkan dan menentukan arah kebijakan partai. Menurut Hary, setiap potensi tergantung momentum dan ia yakin Partai NasDem bakal jadi besar.




23. Kartini Muljadi (1,15 miliar dolar AS)


 


















Kartini Muljadi bersama anak Thania Muljadi

Corporate and Commercial Law Firm

Kartini Muljadi & Rekan

Main Office
Jalan Gunawarman No. 18
Kebayoran Baru
Jakarta 12110
Indonesia

Penghasilan pendiri firma hukum Kartini Muljadi & Rekan itu beserta keluarganya utamanya berasal dari perusahaan obat Tempo Scan yang dikelola sang putra, Handojo.

Menurut CEO Majalah Forbes Indonesia Millie Stephanie, penghitungan kekayaan Kartini dan orang-orang yang masuk daftar, berdasarkan pada nilai saham per 15 November dan nilai tukar mata uang. (berita viva news 2010)

Tak banyak yang bisa diceritakan unuk profile yang satu ini.







24. TP Rachmat (1,140 miliar dolar AS)
Theodore Permadi Rahmat,
atau yang lebih dikenal TP Rahmat.


 


























Manajemen—Tantangan Bagi CEO
“Inti dari manajemen adalah manage
your process. Singkatnya standarisasi.Buatlah standarisasi berdasarkan
competitive advantage.
Kepemimpinan nyali bertambah-tambah melihat geliat roda bisnis PT Triputra Group yang merambah aneka bidang. Mulai dari batu bara, pembiayaan, agro industri, logistik, transportasi, perdagangan, otomotif, hingga garmen.

PT Triputra Group masih berusia muda. Jalan panjang terbuka lebar. Mari kita tunggu langkah raksasa yang dilakukan TP Rachmat dengan PT Triputra Group-nya.D
alam manajemen, TP Rahmat menegaskan pentingnya transparansi, “Pemimpin bisnis
harus membangun transparansi dalam perusahaannya. Ciptakan budaya yang bersih.

Transparansi
menciptakan kepercayaan antara perusahaan dan karyawan. Begitu pula sebaliknya.
Implementasikan tatakelola perusahaan yang baik. Jangan setengah-setengah. Pastikan seluruh karyawan memahami dan menjalankan hal ini.”

Pemimpin Sukses. Organisasi Sukses
“Terbukti dalam berbagai kondisi bahwa organisasi sukses pasti dipimpin oleh pemimpin yang sukses,” kata TP Rahmat. Baginya kriteria pemimpin sukses adalah; memelihara budaya kerja perusahaan, punya visi dan ambisi, serta menjaga karyawannya.

Ia menjelaskan bahwa memelihara budaya kerja ini dapat diwujudkan dengan walk-the-talk. Pemimpin bisnis harus menjadikan dirinya role-model untuk budaya kerja. Ia mengatakan,“Contohnya integritas. Jika pemimpinnya saja melanggar integritas dengan korupsi, apalagi karyawannya. Lalu mau dibawa ke mana perusahaan tersebut? Apakah masih bisa maju?”

Pemimpin bisnis juga harus punya visi dan ambisi. Visi kemana bisnisnya akan dibawa dan ambisi untuk mencapainya.Pemimpin itu tidak boleh merasa cukup. “Mungkin bagi pemimpin
sudah cukup, tapi anak buahnya kan mau lebih,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin harus menjaga karyawannya. “Ambil contoh pemimpin Umar bin Chatab.
Jika perang, ia maju paling depan. Namun untuk pembagian makanan, maka ia yang paling belakang. Begitulah seorang pemimpin harusnya bersikap,” tegasnya.

Memajukan Indonesia
“Saya sering ditanya apakah saya berminat masuk dalam pemerintahan?
Saya memikirkan pertanyaan tersebut. Ternyata ada dua hal yang muncul. Pertama, passion saya adalah membangun bisnis. Kedua, banyak jalan yang dapat ditempuh seseorang untuk memajukan negeri ini. Saya memilih membangun perusahaan yang menyerap tenaga kerja, memberikan mereka peluang untuk berkembang,” kata TP Rahmat. Ia berpendapat
perusahaan yang sukses akan memberikan sukses bagi sumber daya
manusia di dalamnya. Saat ini jumlah karyawan Astra International adalah 145 ribu orang dan karyawan UT adalah 14.542 orang. Ia juga berpesan agar para pebisnis terus meluaskan wawasan,” Saya membaca koran 2-3 jam perhari. Saya ikuti perkembangan. Dari pemberitaan tersebutlah saya melihat bahwa China dan India sedang berkembang pesat
dan masyarakat di sana sangat ingin hidup seperti orang Amerika. Saya cari, apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka?

Dua hal; makanandan energi. Saya merintis bisnis batu bara untuk energi, namun karena saya tidak seksama, saya rugi. Saat ini saya sedang membangun Triputra, sebuah
perusahaan agro bisnis. Di 2009, revenue Triputra Rp 27 trilyun dan di 2010 mencapai Rp 45 trilyun. Tahun depan saya melihat revenue Triputra mencapai Rp 55 trilyun dengan profit
Rp 3 – 3,5 trilyun. Di akhir acara ia menyinggung tentang kegagalan,”Semua yang saya ceritakan tersebut adalah kisah sukses dan apa saja intisarinya. Saya juga pernah gagal.
Beberapa kali. Namun saya tidak mau terpuruk dalam kegagalan karena kita tidak dapat mengembalikan waktu walau sedetik pun. Terhadap kegagalan kita harus mampu bangkit, ambil pelajaran, dan lihat ke depan untuk berusaha lagi.”



25. Djoko Susanto (1,040 miliar dolar AS)
(ALFA MART)
















 


Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.

"Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji," ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau--beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)--kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.

Itulah yang membuatnya jadi sukses dan dijuluki orang terkaya di Indonesia urutan ke 25

Sumber : tempo co bisnis




26. Harjo Sutanto (1 miliar dolar AS)













Mendirikan Wings group di tahun 1948 dengan Johannes Ferdinand Katuari. Bersama keluarga diperkirakan memiliki 25% dari usaha di bidang bahan kebutuhan sehari-hari dan bidang distribusi.



27. Ciputra (950 juta dolar AS)













Ir. Ciputra (lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931; umur 80 tahun) adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ia terkenal sebagai pengusaha properti yang sukses, antara lain pada Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra.

Ciputra, yang memiliki nama lahir Tjie Tjin Hoan, menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Parigi, Sulawesi Tengah. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Bapaknya Tjie Siem Poe ditangkap oleh pasukan tak dikenal,[1] karena dituduh sebagai mata-mata Belanda/Jepang dan tidak pernah kembali lagi pada tahun 1944.

Ketika remaja ia bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari SMA, ia meninggalkan desanya menuju Jawa. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung. Pada tingkat empat, ia bersama dua temannya mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor di sebuah garasi. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia pindah ke Jakarta.
[sunting] Karier dan bisnis

Setelah menyelesaikan kuliahnya di ITB, Ciputra mengawali kariernya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI. Ciputra bekerja di Jaya Group sebagai direksi sampai dengan usia 65 tahun, dan setelah itusebagai penasihat. Di perusahaan tersebut, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol.

Kemudian bersama dengan Sudono Salim (Liem Soe Liong), Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Pada masa itu, Ciputra duduk sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. Akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group.

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu, Bank Ciputra yang didirikannya ditutup oleh Pemerintah karena dianggap tidak layak,[2] dan Asuransi Jiwa Ciputra Allstate yang baru dirintis menjelang krisis pun ikut ditutup.[3] Dengan adanya kebijakan moneter dari pemerintah dan diskon bunga dari beberapa bank, ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.
[sunting] Bidang pendidikan

Pada usianya yang ke-75, ia memilih untuk mengembangkan bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan Universitas Ciputra. Sekolah ini menitikberatkan pada kewirausahaan. Dengan sekolah ini, Ciputra bertujuan untuk menyiapkan para lulusannya menjadi pengusaha.

Ciputra saat ini dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship / kewirausahaan di Indonesia. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menanamkan pentingnya kewirausahaan untuk membuat bangsa Indonesia maju.

Kiprah Ciputra diapresiasi oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan memberikan dua rekor kepada Ciputra, yakni sebagai wirausahawan peraih penghargaan terbanyak di berbagai bidang dan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan kepada dosen terbanyak. Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) telah memberikan pelatihan entrepreneurship kepada setidaknya 1.600 dosen. Ciputra juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young.

Sumber : WIKIPEDIA




28. Samin Tan (940 juta dolar AS)
(President - Borneo Lumbung Energi & Metal)








FILSAFAT KAMI :
Kami percaya pada:
Bertindak dengan integritas kepercayaan,, semangat hormat dan kolaboratif. Maju menuju inovasi dan kreativitas dalam praktek bisnis kami.
Memiliki semangat untuk keunggulan dan hasil yang lebih unggul.
Menyadari tuntutan profesionalisme, waspada terhadap perubahan dan kemampuan untuk menyesuaikan secara sesuai

VISI :
Menjadi salah satu perusahaan pertambangan terkemuka dan dihormati yang terpadu Indonesia.

MISI :
Untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional dengan cara pengembangan dan pemasaran pertambangan Indonesia.




29. Benny Subianto (900 juta dolar AS)



























Benny Subianto:

Vice President Director of PT. Astra International Tbk (1990 – 1998)
President Director of PT. Astra Agro Lestari Tbk (1989–1999)
President Director of PT. United Tractors Tbk (1984-1997).

Karier pria 68 tahun ini dimulai ketika bergabung dengan Astra Internasional milik William Soeryadjaya. Kariernya melesat dengan menduduki berbagai posisi penting di perusahaan di bawah Astra, antara lain United Tractors, Agro Industri, PT Sumalindo Lestari Jaya, dan Astra Basic Industri. Bersama Edward Soeryadjaya dan Boy Tohir, Benny salah satu pemilik Adaro Energy.

Dia juga mantan wakil presiden komisaris PT Astra International Tbk



 



 
30. Aburizal Bakrie (890 juta dolar AS)






 




 

















 






Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 65 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.

Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).

Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).

Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.


  
KARIR POLITIK

Ketua Partai Golkar
Mulai menjabat 9 Oktober 2009
Pendahulu Jusuf Kalla
________________________________________________________________
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia ke-10
Masa jabatan
21 Oktober 2004–6 Desember 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Pendahulu Dorodjatun Kuntjoro-Jakti Pengganti Boediono
________________________________________

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia ke-11
Masa jabatan
7 Desember 2005–21 Oktober 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Pendahulu Alwi Shihab Pengganti Agung Laksono


JENJANG KARIR LAINNYA:


1972 – 1974 Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers

1974 –1982 Direktur PT. Bakrie & Brothers

1982 – 1988 Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers

1988 – 1992 Direktur Utama PT Bakrie & Brothers

1989 – 1992 Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation

1992 - 2004 Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie

1973 – 1975 Wakil Ketua Departemen Perdagangan, HIPMI

1975: Ketua Departemen Perdagangan HIPMI

1976 – 1989 Ketua Umum, Gabungan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia

1977 – 1979 Ketua Umum, HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia)

1984 – 1988 Wakil Ketua, Asosiasi Kerjasama Bisnis Indonesia – Australia

1984 -  sekarang Anggota, Partai Golongan Karya

1985 – 1993 Ketua Bidang Dana PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia)

1988 - 1993 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode I

1988 – 1993 Wakil Ketua Umum, KADIN Bidang Industri dan Industri Kecil

1989 – 1994 Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia

1991 - 1993 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode I

1993 – 1995 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode II

1993 – 1995 Anggota Dewan Penasehat, International Finance Corporation

1993 – 1998 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode II

1994 - 1999 Ketua Umum KADIN periode I

1996 – 1997 International Councellor, Asia Society

1996 – 1998 Presiden, Asean Chamber of Commerce & Industry

1999 – 2004 Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II

2000 – 2005 Anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)

2004 - 2009 Anggota Dewan Penasehat DPP Partai GOLKAR

2009 - 2014 Ketua Umum DPP Partai GOLKAR


Penghargaan

1986 Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce

1995 Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika

1997 Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN BusinessForum



31. Engki Wibowo & Jenny Quantero (810 juta dolar AS)

NO RECORD / TANPA RIWAYAT




32. Hashim Djojohadikusumo (790 juta dolar AS)











Dalam lingkaran trah keluarga Djojohadikusumo, Hashim merupakan satu-satunya yang mewarisi kepiawaian ayah dan kakeknya dalam berbisnis. Ayah Hashim adalah begawan ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang juga merupakan arsitektur ekonomi Orde Baru, sedangkan kakeknya Margono Djojohadikusumo yang tak lain adalah pendiri Bank BNI 1946.
Riwayat pendidikan Hashim lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Seusai menamatkan pendidikan SD di Jakarta, Hashim langsung melanjutkan pendidikannya di Quintin Grammar School (setingkat SMP), London, Inggris. Setamat dari sana, tahun 1969, Hashim meneruskan ke Singapore American School (setingkat SMA) di Singapura. Setelah itu, Hashim terbang ke Amerika Serikat, menimba ilmu politik dan ekonomi di Panoma College, Claremont, California, hingga menyabet gelar sarjana muda tahun 1976.

Ketika Soemitro Djojohadikusumo menjabat sebagai menteri pada masa Orde Baru, Hashim diberi dua tawaran, posisi tinggi di perusahaan milik keluarga atau melanjutkan pendidikan masternya. Hashim menampik dua tawaran tersebut, dan lebih memilih untuk magang di sebuah bank investasi di Perancis yaitu Lazard Freres Et Cie sebagai analis keuangan.
Dari sinilah naluri berbisnis Hashim mulai muncul dan terasah. Ketika ayahnya sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri, Hashim kembali ke Indonesia dan langsung menempati posisi sebagai direktur di Indo Consult, yang merupakan perusahaan milik ayahnya.

Perkembangan bisnis Hashim pun semakin maju, sehingga pada tahun 1988 dia mulai mengakuisisi PT Semen Cibinong lewat perusahaannya PT Tirta Mas. Selain memiliki PT Semen Cibinong, lewat kelompok usahanya Hashim juga memiliki saham di Bank Niaga dan Bank Kredit Asia. Ketika Indonesia dihantam krisis pada tahun 1997, usaha Hashim banyak yang berguguran. Hashim pun masuk dalam daftar pengusaha pengemplang dana obligasi BPPN senilai Rp. 5,37 trilyun.
Untuk menyelamatkan yang masih tersisa, Hashim pun memindahkan usahanya ke luar negeri salah satunya adalah Inggris. Di negara Margareth Tatcher ini. Hashim tinggal 9 tahun untuk fokus mengurusi bisnisnya. 

Di bawah bendera Nations Energy yang didirikannya, Hashim mengendalikan sejumlah bisnis kompetitif di negara-negara seperti Kazahkstan, Inggris, Kanada, Yordania. Khusus di Yordania, jaringan bisnis Hashim diberi keistimewaan oleh pihak istana berkat jalinan pertemanan Prabowo dengan putra mahkota.
Pada Oktober 2006 Hashim menjual Nations Energy kepada Citic Group, sebuah perusahaan energi asal China. Sebenarnya, proses penjualan ini telah dimulai sejak Juni 2006. Tercatat perusahaan asal India dan Rusia ikut menawar Nations Energy dari Hashim. Pada akhirnya, Hashim melego perusahaannya kepada Citic Group dengan nilai US$ 1,91 miliar atau setara Rp 17,2 triliun lebih.
Setelah menjual Nations Energy, Hashim berniat kembali ke Indonesia sekaligus menyelamatkan perusahaan milik Prabowo Kiani Kertas. Pada tahun 2006, perusahaan ini sedang terlilit utang di 

Bank Mandiri senilai Rp 1,9 triliun. Hashim membayar utang Kiani Kertas ke Bank Mandiri menggunakan pundi-pundi keuangannya lewat sebuah lembaga keuangan Merryl Linch.
Pelunasan utang Kiani Kertas tersebut sekaligus memindahkan kepemilikannya dari semula milik taipan Bob Hasan, menjadi seutuhnya milik Hashim dan Prabowo. Lewat Kiani Group juga, Hashim menguasai konsesi lahan hutan seluas 97 hektare yang tersebar sepanjang Aceh Tengah.
Tidak hanya itu, Hashim juga disinyalir memiliki konsesi lahan hutan di Kalimantan Timur lebih dari 1 juta hektare yang meliputi lahan hutan dan tambang batu bara. Tak puas dengan apa yang sudah diraihnya, Hashim berniat kembali untuk membuka 800 ribu hektare kebun aren. Sontak saja, rencana Hashim ini mendapat kritikan banyak pihak karena langkah sebelumnya juga sudah banyak merusak kelestarian lingkungan hutan.

Bila ditotal secara keseluruhan, bisnis keluarga Djojohadikusumo ini sudah memiliki lebih dari tiga juta hektar perkebunan, konsesi hutan, tambang batubara dan ladang migas dari Aceh sampai ke Papua, dan masih berencana membuka 1,5 juta hektar lagi di Kaltim dan Merauke.
Dengan kepemilikan sejumlah aset di banyak perusahaan Globe Asia menobatkan Hashim Djojohadikusumo dalam urutan sepuluh besar orang terkaya di Asia dengan taksiran kekayaan sebesar US$ 850 juta atau sekitar Rp 8,5 triliun.
Pertengahan 2007, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita keterlibatan Hashim Djojohadikusumo dalam kasus pencurian arca milik museum Radya Pustaka Surakarta. Dalam kejadian tersebut, arca milik keraton yang dititipkan ke museum hilang sebanyak enam arca. 

Setelah diusut, ternyata pihak kepolisian menemukan keenam arca yang hilang tersebut di sebuah rumah milik Hashim Djojohadikusumo di bilangan Kemang.
Kepolisian pun menyatakan Hashim sebagai tersangka dalam kasus kepemilikan sejumlah arca secara tidak sah, dan terancam hukuman penjara. Walau pun terlibat dalam kasus kepemilikan arca secara tidak sah, namun pengadilan memutuskan Hashim Djojohadikusumo tidak bersalah dan dinyatakan bebas.

Selain dikenal sebagai pengusaha, Hashim juga merupakan Dewan Pembina Partai Gerindra. Ketika wacana menduetkan Mega-Prabowo menguat, Hashim merupakan orang yang tidak menghendaki koalisi tersebut. PDI-Perjuangan bersama Prabowo sampai membuat tim khusus untuk melobinya agar memberikan restu pada koalisi Mega-Parbowo untuk maju dalam Piplres 2009.
Pantas saja bila Hashim bersikap seperti itu. Dengan kekuatan dana dan prestige kapitalis yang dimilikinya, ia bisa saja membuat tim sukses Mega-Prabowo tidak berkutik. Bersama Taufik Kiemas, Hashim duduk sebagai penasihat Tim Sukses Resmi yang didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Keterlibatan Hashim dalam politik banyak dicurigai akan mengotori idealisme politik dengan kapitalisme. Dengan terbuka kepada media, Hashim mengakui bangga menjadi seorang kapitalis. Tentu kapitalis yang dimaksud Hashim adalah kapitalis bermoral yang banyak mementingkan kepentingan masyarakat dengan kekuatan kapitalnya.
Bersama Prabowo, Hashim juga sering dikaitkan dengan latar belakang keluarganya yang memiliki rekam jejak kurang bagus. Ayah Hashim misalnya, sebelum menjadi menteri dan arsitek ekonomi Orde Baru adalah seorang pemberontak dan aktifis PRRI-Permesta dan sempat menjadi buronan pemerintah.
Namun atas kebijakan Soeharto yang pada saat itu membutuhkan orang yang bisa memperbaiki perekonomian dengan rumus-rumus ekonomi modern, Soemitro Djojohadikusumo pun dimaafkan dan dipanggil untuk bergabung di pemerintahan.***
Sumber :JAKARTA [KANALPEMILU.NET]






33. Soegiarto Adikoesoemo (770 juta dolar AS)















Soegiarto Adikoesoemo menjabat sebagai Presiden Komisaris PT AKR Corporindo sejak tahun 1992. Lahir di Malang pada tahun 1938, Soegiarto Adikoesoemo adalah pendiri AKR Group. Dia adalah Presiden Direktur Perseroan sampai 1992. Dia mendirikan PT Aneka Chemical Company yang kemudian menjadi Kerajaan pada tahun 1977. Dia mendirikan dan merupakan Presiden Direktur PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (PT Inti Murni fomerly Perusahaan Sorbitol), produsen Sorbitol pada tahun 1983. Setelah tidak terlibat dalam kepengurusan Manajemen sehari-hari di perusahaan, Soegiarto Adikoesoemo menduduki posisi sebagai Presiden Komisaris PT Sorini Agro Asia Corporindo. from 1990-2010, PT Arjuna Utama Kimia 2007-sekarang; sebagai Presiden Komisaris PT Saritanam Pratama 1993-2010, PT Arthakencana Rayatama dari 1993-sekarang, PT Andhahanesa Abadi dari 2004-sekarang dan PT Agro Asia Manunggal periode 2008-2010 ; Wakil Presiden Komisaris PT Sorini Towa Berlian Perusahaan 1994-2010.

34. Kuncoro Wibowo (730 juta dolar AS)
Chairman PT Kawan Lama Sejahtera







 








 












Beliau yang memiliki kekayaan US$730 juta berada di peringkat 34. Almarhum ayahnya mengoperasikan tokokecil yang menjual alat dan perangkat keras. Wibowo mengambil alih bisnis itu setelah kematian ayahnya. Dengan bantuan dari 5 saudaranya, lalu berkembang menjadi perdagangan, importir, distributor peralatan teknik. Anak usahanya yang terdaftar PT Ace Hardware Indonesia merupakan ritel penyedia peralatan rumah tangga terbesar.

Kuncoro saat ini menjadi CEO Grup Kawan Lama, perusahaan distributor perkakas teknik terbesar di Tanah Air yang memasok hampir ke seluruh industri -- dari pemasok industri "manufacturing," otomotif hingga pertambangan. Produk yang didistribusikan: dari mur dan obeng hingga kompresor dan genset. Jumlah dagangannya mencapai puluhan ribu "item," menjadikannya sebagai perusahaan distributor teknik dengan skala terbesar di Asia Tenggara. Tak hanya itu, grup usahanya juga yang pertama mengembangkan bisnis ritel untuk alat-alat perkakas dengan konsep "convenient store," melalui jaringan Ace Hardware. Keberadaan Ace Hardware cukup unik karena mampu mengubah budaya belanja perkakas teknik di kalangan menengah perkotaan. Singkatnya, kehadiran Ace Hardware telah memberi warna baru terhadap dunia ritel dan kebiasaan berbelanja perkakas di Indonesia.



35. Muhammad Aksa Mahmud (710 juta dolar AS)
































Ia menduduki peringkat 35 dengan kekayaan US$710 juta, pemilik Bosowa ini menjual 23 persen sahamnya di Nusantara Infrastructure kepada Peter Sondakh awal tahun ini. Aksa sekarang membangun pabrik semen kedua di Maros,Sulawesi Selatan. Ia juga tengah menggarap agribisnis, termasuk 100.000
hektar sawah di Papua.




36. Husain Sjojonegoro (700 juta dolar AS)



 





































Di industri barang-barang konsumsi, nama pebisnis yang mengendalikan Grup ABC selama 62 tahun bersama dua saudara laki-lakinya, Husain Djojonegoro, juga menjadi salah satu yang terkaya.
Pria berusia 61 tahun itu memiliki kekayaan US$545 juta atau sekitar Rp4,9 triliun. Perusahaan yang dikelolanya didirikan pertama kali oleh ayahnya, Chandra Djojonegoro dan pamannya.

Grup ABC awalnya berkembang pesat sebagai perusahaan pembuat batu baterai terbesar di Indonesia. Setelah itu, sejumlah produk makanan dan minuman serta kebutuhan rumah tangga yang cukup populer di masyarakat juga diproduksi grup perusahaan ini. Sebut saja kecap ABC, wafer Tango, Vitacharm Prebiotik Milk, Nü Green Tea, hingga pasta gigi Formula.

Dalam buku ilmu bisnis Tionghoa disebutkan Husain memimpin usaha Grup ABC atau yang dikenal juga dengan Grup Orang Tua itu sejak 1988. Sebelumnya, dia sudah ikut bergelut di grup perusahaan itu sejak berusia 20 tahun.

Generasi kedua Djojonegoro ini tidak hanya mampu mengembangkan bisnisnya di bidang lain, namun berhasil membawa perusahaan melewati masa krisis ekonomi. Grup Orang Tua ini pun memiliki sekitar 50 anak usaha yang memproduksi berbagai macam kebutuhan rumah tangga yang beberapa di antaranya menjadi pemimpin pasar.

Karena keberhasilannya itu, Husain juga sudah masuk daftar 40 orang terkaya versi Forbes pada 2007 dengan kekayaan US$305 juta. Mesin uangnya juga dikontribusi dari sejumlah perusahaan seperti PT Ultra Prima Pangan Makmur, PT Heinz ABC, dan PT Asia Sejahtera Pharmaceutical.

Ultra Prima Pangan Makmur adalah produsen wafer Tango, sedangkan Asia Sejahtera Pharmaceutical penghasil minuman dengan merek Kratingdaeng. (Vivanews.com)



  
37. Sandiaga Uno (660 juta dolar AS)









 

































Sandiaga Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandi Uno (lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969; umur 42 tahun adalah pengusaha asal Indonesia. Sering hadir di acara seminar-seminar, Sandi Uno memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda.

Sandi Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut.Bersama rekannya, Sandi Uno mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor.Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain .Pada tahun 2009, Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan 37 di Indonesia menurut majalah Forbes.

Sandi Uno adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 .

Kemudian, pada tahun 1993 ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus di MP Holding Limited Group (mulai 1994). Pada 1995 ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Sandi pun tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanya tersebut. Ia pulang ke Indonesia dengan predikat pengangguran. Meskipun demikian, karena kejadian tersebut, Sandi Uno kemudian mengubah cara pandangnya dan berbalik arah menjadi pengusaha.

Pada tahun 1997 Sandi Uno mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya. Kemudian, pada 1998 ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Berbekal jejaring (network) yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi Uno sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu kemudian dibenahi dan dikembangkan. Setelah kembali sehat, aset perusahaan tersebut dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Hingga 2009, ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih oleh PT Saratoga. Beberapa perusahaan pun telah dijual kembali , antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.

Pada 2005-2008, Sandi Uno menjadi ketua umum Himpunan pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.

Saat ini, Sandi Uno juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan.
    PT Adaro Indonesia
    PT Indonesia Bulk Terminal
    PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
    Interra Resources Limited
    PT. iFORTE SOLUSI INFOTEK

Pada bulan Mei 2011 lalu, ia memutuskan membeli 51% saham Mandala Airlines.
Sumber wikipedia



38. Mochtar Riady (650 juta dolar AS)












 












Mochtar Riady  lahir di Kota Malang, 12 Mei 1929; umur 82 tahun adalah seorang pengusaha Indonesia terkemuka, pendiri dan presiden komisaris dari Grup Lippo. Ia banyak dikenal orang sebagai seorang praktisi perbankan handal, serta salah seorang konglomerat keturunan Tionghoa-Indonesia telah yang berhasil mengembangkan grup bisnisnya hingga ke mancanegara.

Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin.

Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar Riady bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo.

Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni : 1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas 2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri. 3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi. 4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi.

Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling. 5. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektronik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.


Dia dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Chairman Group Lippo ini dikenal sebagai seorang praktisi perbankan yang handal. Bahkan patut digelari seorang filsuf bisnis jasa keuangan yang kaya ide dan solusi mengatasi masalah. Seorang konglomerat yang visioner dan sarat dengan filosofi bisnis. Dia pantas menjadi panutan bagi para pengusaha dan pelaku pasar serta siapa saja yang ingin belajar dari pengalaman orang lain.

Dalam RUPS PT Bank Lippo Tbk (LippoBank), Jumat 4 Maret 2005, Mochtar Riady mengundurkan dari jabatan komisaris utama agar bisnis keluarga tersebut berubah menjadi entitas bisnis kelembagaan yang sepenuhnya berjalan atas tuntutan profesionalisme. Pengunduran ini menandai tidak adanya lagi keluarga Riady yang duduk jajaran pimpinan LippoBank.
Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929, setidaknya diakui kehandalannya sebagai filsuf bisnis Grup Lippo yang didirikannya. Di Grup Lippo ini, dia berhasil mengader James Tjahaya Riady (puteranya) dan Roy Edu Tirtadji menjadi filsuf bisnis handal juga. James dan Roy telah siap mendampingi dan melanjutkan visi bisnisnya. Mereka tampil sebagai filsuf dan pemikir sekaligus panglima yang menentukan arah bisnis semua perusahaan yang bernaung di bawah bendera Lippo, baik di masa tenang apalagi di masa sulit.
Masih ingat, ketika Bank Lippo di goyang rumor kalah kliring pada November 1995? Mochtar, pemilik nama Tionghoa, Lie Mo Tie, ini mampu mengatasinya dengan cepat. Dia laksana panglima perang yang dengan cerdas dan cekatan memonitor setiap perkembangan lapangan detik demi detik, serta memberikan instruksi-instruksi penting ke semua lini jajaran di bawahnya. Rumor kalah kliring itu pun dienyahkan dan bendera Bank Lippo pun makin berkibar.

Bisa dibaca lebih mendetail di sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_riady


SEKILAS MENGENAI BANK LIPPO YANG BERUBAH MENJADI CIMB NIAGA

Saat Asia mengalami krisis keuangan pada tahun 1997, Indonesia menjual saham Bank Lippo,. Penjualan saham milik Bank Lippo ini guna menutupi defisit pemerintah Indonesia yang mencapai angka 450 triliun. Penjualn itu juga akhirnya digunakan pemerintah untuk menyelamatkan keadaan keuangan bank-bank yang ada di Indonesia.

Negara Swiss, tepatnya sebuah lembaga yang bernama Swissasia Global membeli saham bank Lippo sebanyak 52,1 persen.Lembaga tersebut membeli aset yang dimiliki Bank Lippo kepada Bank Penyehatan Perbankan NAsional, Bank Indonesia sebesar $142 juta. Lembaga tersebut kemudia mengambil alih kekuasaan Bank Lippo dari pihak Mochtar Riady.

Pemerintah Indonesia kemudian memberikan sejumlah suntikan dana dan memberi pinjaman kepada pemilik awal Bank Lippo pada tahun 1999. Mochtar Riady bersama grup Lippo tidak serta merta kehilangan seluruh saham nya di bank yang telah ia dirikan. Jumlah saham yang dimiliki Riady sangatlah kecil, yaitu hanya 5,6 persen dari keseluruhan saham yang dimiliki oleh Bank Lippo. Meskipun demikian Riady tetap melakukan kontrol terhadap Bank Lippo denan sangat baik.

Pada tahun 2005, saham yang dimiliki Swissasia Global ang sudah lebih dahulu berpindah tangan kepada Khazanah Nasional Berhard sejumlah 52,05 persen kemudian berpindah tangan kembali, kali ini tampuk kekuasaan saham Bank Lippo berada di genggaman pemerintahan Malaysia.

Khazanah Nasional Berhard masih memiliki sejumlah saam di berbagai bank, selain Bank Lippo ia juga memegang sejumlah saham di bank CIMB. Bank Lippo kemudian bergabung bersama Bank Niaga  pada November 2008. Gabugan dari dua bank tersebut berada di bawh naungan CIMB Group. Mereka memperkenalkan gabungan kedua bank tersebut dengan nama CIMB Niaga.



39. Triatma Haliman (640 juta dolar AS)



 











Trihatma Kusuma Haliman adalah generasi kedua keluarga Haliman, pendiri Agung Podomoro Group. Ayahnya, Anton Haliman, membangun antara lain perumahan Simprug dan Sunter Podomoro. Setelah Trihatma mengendalikan perusahaan ini, di tangan Trihatma lah, Agung Podomoro berkembang menjadi perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia.

Agung Podomoro kini sudah dan sedang membangun 74 proyek properti, mulai dari properti untuk masyarakat menengah bawah, menengah, dan menengah atas, termasuk tiga proyek terbaru. Semua segmen pasar dimasuki Agung Podomoro. Jumlah apartemen yang sudah dibangun APL di luar rusunami, hingga Juni 2010, tercatat 61.000 unit, sehingga Agung Podomoro Land menguasai 51 persen pasar apartemen di Jakarta.

Lahir di Jakarta, 6 Januari 1952, Trihatma Kusuma Haliman sempat mengenyam pendidikan arsitektur di Universitas Trier, Kaiserlautern, Jerman 1970-1973. Namun sang ayah memanggilnya pulang ke Indonesia untuk membantu mengelola perusahaan properti APG. “Jadilah saya lulusan universitas APG,” seloroh Trihatma Kusuma Haliman dalam percakapan dengan Kompas.com di Central Park Jakarta, Selasa (22/3/11) sore.


SUMBER :KOMPAS.COM





40. Handojo Santosa (630 juta dolar AS).





 
















Mr Handojo Santosa telah menjadi Direktur PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sejak tahun 1997. Ia bergabung dengan perusahaan pada tahun 1986 sebagai manajer di divisi minyak edible di Nilam di Surabaya dan Wakil Presiden Direktur dari 1989 hingga 1997. Dia memiliki pengalaman di unggas feed, peternakan, pengolahan dan budidaya.


Di rangkum dari berbagai sumber
Smile, November 2011

0 komentar:

Posting Komentar